Pesawat Cina tantang Boeing-Airbus

Model pesawat Cina, Comac C919 pernah di pamerkan di Hong Kong

Potensi ancaman terbesar terhadap dominasi produsen digelar di Pameran Dirgantara Singapura.

Cina menantang produk Boeing dan Airbus dengan memamerkan model pesawat Comac C919. Ini kali pertama pesawat berbadan ramping tersebut dipamerkan di luar daratan Cina.

Comac diperkenalkan dengan cara bersahaja dan cara ini konsisten dengan jalan yang lebih dipilih oleh perusahaan-perusahaan Cina ketika beroperasi di luar negeri.

Pesawat itu dirancang dan dibangun total di Cina. Produk ini bakal bersaing langsung dengan pesawat andalan A320 dan Boeing 737 setelah merampungkan uji terbang dalam masa empat tahun.

Comac C919 akan masuk pasar komersial paling lambat tahun 2016.

"Begitulah rencana kami," ujar seorang pejabat dari Commercial Aircraft Corporation of China, atau Comac, kepada BBC News.

"Kami akan berusaha keras untuk memenuhinya. Dewasa ini tanggal penyerahan sering diundur," tambahnya.

Tahun depan

Pesawat C919 merupakan salah satu target pengembangan industri dirgantara domestik, yang kelak mungkin menantang cengkeraman Airbus dan Boeing di pasar penerbangan komersial dunia.

Comac mungkin membangun lebih dari 2.000 unit C919 dalam dua dasawarsa ke depan dengan ambisi merebut sekitar 10% dari pasar dunia untuk pesawat berbadan sempit.

Kehadiran pesawat tersebut menandai kebangkitan pesawat Comac yang dirikan sekitar satu setengah tahun lalu.

Bermarkas di Shanghai, perusahaan dirgantara ini didukung penuh oleh pemerintah Cina dan juga pemerintah daerah serta beberapa perusahaan milik negara, termasuk Chinalco dan Baosteel.

Comac telah menjual lebih dari 240 unit pesawat jet bermesin kembar ARJ-21 kepada beberapa maskapai penerbangan Cina, Laos, dan salah satu unit usaha General Electric.

Pesawat tersebut direncanakan untuk diserahkan kepada konsumen tahun depan.

Pasar terbesar

Pesawat Airbus

Airbus memproduksi aneka pesawat komersial untuk pasar dunia

Kalangan pakar yakin Cina memerlukan waktu 10 hingga 20 tahun untuk memapankan diri di penerbangan komersial.

Peluang ini menarik minat puluhan pemasok dari Barat, termasuk Rockwell Collins, General Electric dan Honeywell.

Mark Howes, presiden Honeywell Aerospace Asia Pacific, mengatakan kepada BBC dalam wawancara di pameran dirgantara Singapura: "Kami semua berunding dan mengejar kesepakatan."

Honeywell berharap bisa menjual sistem mekanis dan elektronik untuk dimasukkan ke produk C919.

Perusahaan Amerika ini telah menandantangani kontrak untuk pemasokan sistem kendali penerbangan dan sistem navigasi inersia untuk ARJ-21.

Suatu hari kelak, Cina akan menjadi pasar terbesar bagi Honeywell di Asia, kata Howes.

Inilah alasan dia kini ditempatkan di Shanghai setelah pindah ke sana dua tahun lalu agar lebih dekat dengan konsumen Cina.

Ancaman sanksi

Produk pesawat Boeing memiliki posisi mapan di pasar dunia

Produk pesawat Boeing memiliki posisi mapan di pasar dunia

Sebagaimana perusahaan manufaktur Amerika yang berbisnis di Cina, Honeywell mencermati sengketa yang merebak antara Beijing dan Washington, termasuk kasus terbaru berupa ekspor senjata kepada Taiwan.

Cina mengancam akan menghukum perusahaan-perusahaan Amerika yang menjual senjata kepada Taiwan, yang dipandang Beijing provinsi yang membangkang.

Perkembangan ini memunculkan risiko lebih besar bagi Boeing yang memasok rudal Harpoon yang dibeli Taiwan melalui kesepakatan transaksi senjata dengan Amerika Serikat.

Ketika ditanya BBC News, raksasa industri dirgantara itu menolak mengomentari kemungkinan akan mendapat sanksi.

Boeing dan beberapa perusahaan lain dari Barat menanggung banyak untung dari bisnis dengan Cina.

"Pasar Cina mengagumkan tahun lalu," kata direktur pemasaran Boeing Commercial Airplanes, Randy Tinseth.

Dengan mengembangkan industrinya sendiri, Cina pasti juga ingin menangguk keuntungan yang sangat besar.

0 komentar:

Posting Komentar