Suharto menjelaskan, rendahnya kinerja mayoritas maskapai domestik ini merupakan hasil penelitian MTI, yang bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan. Sampelnya, ujar pengajar tetap di Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti tersebut, dilakukan terhadap 16 maskapai yang melayani rute domestik terbanyak, yakni Jakarta-Surabaya.
Penelitian itu juga menemukan sebagian besar keterlambatan terjadi di atas 60 menit. Adapun masalah teknis merupakan alasan terbanyak yang diajukan maskapai. "Mencapai 70 persen," ucapnya.
Masalahnya, Suharto memaparkan, maskapai tidak pernah secara jelas menerangkan apa yang dimaksud alasan teknis sehingga terjadi keterlambatan. Untuk itu, kata Suharto, penelitian akan dilanjutkan dengan mengupas alasan teknis tersebut. "Kami akan dalami, apa di balik alasan teknis itu."
Suharto kemudian meminta pemerintah segera mengevaluasi kinerja maskapai dan melindungi hak konsumen dari ketidakprofesionalan maskapai. "Selama ini maskapai jadi superior," katanya. Pasalnya, maskapai beranggapan tanggung jawab mereka selesai jika telah memberi konsumen kompensasi berupa makan, minum, dan ganti pesawat. "Ini sudah kronis, kompensasi bukan penyelesaian."
Djamal, Kepala Pelayanan Operasional Bandar Udara Polonia Medan PT Angkasa Pura II, mengatakan, tiap hari lima hingga 10 maskapai terlambat terbang. "Sehari 140 pergerakan (penerbangan). Gangguan keterlambatan itu 3-5 persen," kata Djamal kepada Tempo, Sabtu pekan lalu. Menurut Djamal, alasan operasional sering menjadi alasan keterlambatan.
Direktur Umum dan Personalia PT Angkasa Pura I Makassar, Sulawesi Selatan, Kintoron mengatakan, Lion Air termasuk yang paling sering terlambat di Bandara Sultan Hasanuddin. "Tingkat keterlambatannya berkisar satu jam lebih sedikit," ujarnya pekan lalu.
Adapun data kantor penerbangan (officer in charge) Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu lalu menunjukkan beberapa maskapai terlambat terbang. Pesawat Lion Air JT 0154 tujuan Singapura, yang seharusnya berangkat pada pukul 11.30 WIB, molor hingga pukul 13.13 WIB. Keterlambatan terbang juga terjadi pada Lion Air JT 0022 tujuan Denpasar, yang dijadwalkan terbang pada pukul 11.35 WIB baru berangkat pukul 12.19 WIB.
Maskapai Garuda Indonesia nyaris tepat waktu. Misalnya Garuda GA 0300 tujuan Surabaya berangkat pukul 05.12 WIB dari jadwal pukul 05.00 WIB. GA 0510 tujuan Balikpapan, yang seharusnya berangkat pukul 06.20 WIB, baru take-off pukul 06.28 WIB.
Juru bicara Lion Air, Edward Sirati, mengakui performa maskapainya buruk sejak musim hujan akhir tahun lalu. Alasannya faktor cuaca. "Belakangan ini jadwal penerbangan kami memang sedang hancur-hancuran," ujarnya.
0 komentar:
Posting Komentar